Tampilkan postingan dengan label Twah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Twah. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Agustus 2013

TINJAUAN FILOLOGIS TERHADAP FRAGMEN CARITA PARAHYANGAN

(NASKAH SUNDA KUNO ABAD XVI TENTANG GAMBARAN SISTEM PEMERINTAHAN MASYARAKAT SUNDA)

Oleh: Undang Ahmad Darsa, Kunto Sofianto, Elis Suryani NS.

1. Pendahuluan
Naskah Fragmen Carita Parahyangan (FCP) termasuk salah satu naskah Sunda Kuno dari masa abad ke-16 Masehi yang berada dalam kropak 406 bersama dengan naskah Carita Parahyangan (CP) dan kini tersimpan di Bagian Koleksi Naskah Perpustakaan Nasional Jakarta. Jumlah lempir halaman keseluruhan terdiri atas 47 buah yang masing-masing berukuran 21 x 3 cm, tetapi pada setiap lempir halaman tidak bernomor meskipun dalam sistem tata tulis aksara Sunda Kuno dikenal adanya lambang-lambang angka. Penomoran terhadap setiap lempir halaman baru diberikan kemudian oleh Cohen Stuart (Pleyte, 1911:196; Atja, 1968:7) menggunakan angka Arab yang ditulis memakai tinta pada margin sebelah kanan. Pencantuman angka 1 sampai dengan 47 oleh Cohen Stuart ternyata dilakukan tanpa memperhatikan susunan cerita menurut lempiran naskah secara seksama sehingga jalan cerita menjadi kacau. Bahkan, pengurutan angka-angka itu tidak ditempatkan secara konsisten. Ada yang ditulis pada lempir recto 'halaman muka', ada pula yang ditulis pada lempir verso 'halaman belakang'.

Berkenaan dengan isi kropak 406, Holle (1882 94) menyatakan bahwa, Dat ms. is gegriffeld op lontar en heet Tjarita Parahijangan 'Naskah itu ditulis pada lontar dan dinamai Carita Parahyangan'. Dikatakan selanjutnya bahwa naskah tersebut tidak lengkap dan lempirannya tercampur dalam dua buah naskah, yang salah satu teksnya pendek dan fragmentaris. Mengenai hal ini dikatakan, Daar de lontarbladen niet genummerd zijn en de tekst kort en fragmentarisch is het mijn niet gelukt al de bladen te scheiden en aan elkaar te lezen 'Pada lempiran daun lontar yang tidak dinomori, yang memuat teks pendek dan fragmentaris itu belum dapat saya pisahkan lempiran-lempirannya serta belum mampu membaca urutannya'(Holle:1882:94). H. ten Dam menamakan lempiran-lempiran naskah ini sebagai Tjarita Parahjangan Eerste Fragment (1957:308).

2. Rekonstruksi Teks Fragmen Carita Parahyangan
Lempir-lempir halaman naskah yang memuat teks FCP terdiri atas 13 buah atau 25 halaman yang menempati sepuluh nomor awal ditambah nomor 25, 26, dan 29. Mungkin, itulah sebabnya lempiran-lempiran tadi dinamakan oleh Dam (1957: 308) sebagai bagian pertama dari Carita Parahyangan. Akan tetapi transliterasi teks FCP tidak ada, baik dalam karya Poerbatjaraka (1919-1921), Dam (1957), maupun Noorduyn (1962; 1965). Sementara itu, Pleyte (1911: 172-184) memuat hasil transliterasi teks dari sebagian lempir naskah FCP sebanyak 5 halaman, yaitu 3b, 4b,5a, 7b, dan 8b.

Berhubung tidak adanya hasil transliterasi dari lempir halaman 1ab, 2ab, 3a, 4a, 5b, 6ab, 7a, 8a, 9ba, 10ab, 25ba, 26ba, dan 29a maka ketiga belas lempir halaman naskah FCP itu diusahakan disusun agar diperoleh sebuah rangkaian teks sesuai dengan urutannya, sebagaimana tampak berikut ini.
1ab - 25b - 29a - 25a - 26ba - 10ab - 2ab - 3ab - 4ab - 5ab - 6ab - 7ab - 8ab - 9ab.
Di antara ketiga belas lempir halaman FCP itu terdapat satu lempir yang boleh dikatakan unik, yakni lempiran nomor 29. Uniknya karena hanya teks pada halaman muka, yaitu lempir 29a yang termasuk ke dalam susunan teks FCP sedangkan lempir 29b termasuk ke dalam penutup teks naskah CP. Bahkan, penempatan teks 29a ini pun harus diselipkan di antara teks yang terdapat dalam lempir nomor 25, yakni di antara 25(b) dan 25(a).. Barangkali, itulah yang menyebabkan Holle mengemukakan pernyataan sebagaimana telah disinggung di muka.

3. Isi Teks Fragmen Carita Parahyangan
Secara garis besar, teks naskah FCP berisi mengenai gambaran sistem pemrintahan kerajaan Sunda yang berpusat di ibukota Pakuan Pajajaran. Ada tiga kisah utama para penguasa kerajaan Sunda yang terpenting disebut-sebut dalam teks FCP ini, yakni (1) Tiga orang pendahulu Maharaja Trarusbawa sebagai perintis berdirinya kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran, masing-masing adalah Bagawat Angga Sunyia dari Windupepet, Bagawat Angga Mrewasa dari Hujung Galuh, dan Bagawat Angga Brama dari Pucung. Bagian kisah ini tertuang dalam teks lempir halaman 1ab; (2) Maharaja Trarusbawa penguasa Pakuan Pajajaran yang bertakhta di keraton "Sri-Bima Punta Narayana Madura Suradipati". Kisah ini menempati sebagian besar teks FCP yang tertuang dalam 20 lempir halaman (25b sampai dengan 8a); dan 3) Rakeyan Darmasiksa penguasa dari Saunggalah yang mewarisi keraton di Pakuan Pajajaran. Bagian ini tertuang dalam teks FCP sebanyak tiga halaman (8b sampai dengan 9a).

Trarusbawa merupakan tokoh sentral yang dikisahkan dalam teks FCP. Dialah yang memperbaiki sekaligus memindahkan lokasi keraton "Sri-Bima Punta Narayana Madura Suradipati" dari sekitar Rancamaya ke sebuah perbukitan di hulu Cipakancilan atas saran Bujangga Sedamanah. Semenjak itu, Pakuan menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Sunda di bawah Maharaja Trarusbawa. Trarusbawa sendiri sebagai pr bu 'pemimpin roda pemerintahan pusat' membawahi beberapa penguasa wilayah yang diangkat atas kesepakatan bersama dengan pihak rama 'tokoh masyarakat wakil rakyat' dan pihak r si 'penentu kebijakan hukum'. Tercatat ada sebelas wilayah yang berada di bawah kekuasaan kerajaan Sunda, masing-masing wilayah adalah Galunggung, Denuh, Mandala Cidatar, Geger Gadung, Kandangwesi, Puntang, Mandala Pucung, Mandala Utama Jangkar, Windupepet, Lewa, dan Galuh.

Pada bagian lain teks FCP ini disebutkan bahwa Maharaja Trarusbawa sebagai pr bu, atas kesepakatan pihak rama dan r si mengatur persoalan yang berkaitan dengan pangw r g 'ketentuan berupa hak' bagi para penguasa wilayah di 5 kerajaan Sunda, serta pamwatan 'kewajiban mempersembahkan produk potensi alam'
dari para penguasa wilayah ke ibukota Pakuan setiap tahun. Produk tersebut adalah berupa hasil pertanian dan peternakan, serta hasil industri masyarakat.

Maharaja Trarusbawa disebutkan dalam teks FCP berkuasa cukup lama. Pemerintahan selanjutnya diteruskan secara bergantian mulai dari Maharaja Harisdarma, Rahyang Tamperan, Rahyang Banga, Rahyangta Wuwus, Prebu Sanghyang, Sang Lumahing Rana, Sang Lumahing Tasik Panjang, Sang Winduraja, sampai akhirnya kepada Rakean Darmasiksa. Disebutkan bahwa Rakeyan Darmasiksa merupakan penjelmaan dari Patanjala Sakti yang semula menjadi penguasa wilayah di Saunggalah. Berkat kepemimpinannya yang bijak sehingga mampu ngertakeun urang rea 'menyejahterakan kehidupan rakyat banyak', Rakeyan Darmasiksa selanjutnya bertakhta di keraton Sri-Bima Punta Narayana Madura Suradipati di Pakuan Pajajaran mewarisi para pendahulunya.

4. Penutup
Teks Fragmen Carita Parahyangan yang tertuang dalam naskah lontar yang berbahasa dan beraksara Sunda Kuno isinya cenderung sangat bernuansa historis. Di dalamnya memperlihatkan gambaran sistem pemerintahan dalam kerajaan Sunda pada masa lampau. Berkaitan dengan hal tersebut, ada dua hal penting yang tersirat di dalam teks Fragmen Carita Parahyangan ini, yakni gambaran konsep sebagai sarana untuk melaksanakan kekuasaan raja secara berkesinambungan serta untuk melindungi keutuhan wilayah kerajaan.

Konsep yang dimaksud, antara lain ialah konsep kosmologis yang cenderung bersifat magis-religius. Hal ini tampak dalam pribadi raja yang dilegitimasi sebagai keturunan para leluhur yang dianggap suci atau dewa. Peranan demikian tidak hanya menentukan dalam pembenaran dan pengukuhan kekuasaan raja, tetapi juga dalam memperjelas hubungan antara raja dengan rakyatnya. Konsep lainnya adalah yang bersifat praktis sebagai sarana untuk mencapai tujuan raja. Dalam teks Fragmen Carita Parahyangan, hal ini terlihat dalam teknis birokrasi kerajaan yang terdisentralisasi ke dalam wilayah-wilayah kerajaan yang terikat oleh pangw r g. Tampak pula adanya sistem aturan yang bersifat materiil guna menjamin kelangsungan kesejahteraan kerajaan yang tertuang dalam pamwatan, yang didasarkan atas prinsip-prinsip otonomi.

Di samping itu, kelangsungan kerajaan didasarkan kepada sistem pembagian kekuasaan yang disebut Tri Tangtu di Buana 'tiga unsur penentu kehidupan di dunia', terdiri atas pr bu, rama dan r si. Pr bu adalah pemimpin roda pemerintahan (eksekutif) yang harus ngagurat batu 'berwatak teguh'. Rama adalah golongan yang dituakan sebagai wakil rakyat (legislatif) yang harus ngagurat lemah 'berwatak menentukan hal yang mesti dipijak'. R si adalah golongan yang bertugas memberdayakan hukum agama dan darigama 'negara' (yudikatif) yang harus ngagurat cai 'berwatak menyejukkan dalam peradilan'.

Berdasarkan uraian tadi ternyata isi teks Fragmen Carita Parahyangan ini telah mampu memberikan sebagian gambaran bahwa masyarakat Sunda di masa lampau telah memiliki satu taraf kehidupan sosial yang cukup teratur, seperti juga sebagian masyarakat lainnya yang ada di Nusantara. Masyarakat lama telah mewariskan sesuatu yang mungkin sama sekali di luar perhitungan dan perkiraan kita saat ini. Masalahnya, antara lain, kurangnya pengetahuan dan pengenalan kita terhadap khazanah pernaskahan bangsa kita sendiri. Terbukti, banyak hal yang saat ini sedang menjadi urusan besar, namun telah terbiasa bagi masyarakat masa silam. Apalagi pada saat seluruh sistem politik tampaknya berada dalam perputaran perkembangan baru dengan adanya era globalisasi, suatu penelaahan mengenai dasardasar filosofis dari sistem pemerintahan tradisional bukanlah tidak pada tempatnya. Malahan mungkin saja akan merupakan penarik perhatian yang melebihi minat teoritis semata-mata. Keyakinan historis ini secara psikologis tak hanya akan memberikan kebanggaan, tetapi juga keteguhan untuk memelihara dan mengolah nilai-nilai luhur dari tradisi besar bangsa.

* Artikel penelitian disajikan dalam "Seminar Hasil Penelitian" di Fakultas Sastra Unpad tanggal 29
Januari 2000 yang dibiayai dana DIK UNPAD tahun anggaran 1999/2000.

Minggu, 11 Agustus 2013

CARITA PARAHYANGAN


I
Ndéh nihan Carita Parahiyangan. Sang Resi Guru mangyuga Rajaputra. Rajaputra miseuweukeun Sang Kandiawan lawan Sang Kandiawati, sida sapilanceukan.Ngangaranan manéh Rahiyangta Déwaraja. Basa lumaku ngarajaresi ngangaranan manéh Rahiyangta ri Medangjati, inya Sang Layuwatang, nya nu nyieun Sanghiyang Watang Ageung. Basana angkat sabumi jadi manik sakurungan, nu miseuweukeun pancaputra; Sang Apatiyan Sang Kusika, Sang Garga Sang Mestri, Sang Purusa, Sang Putanjala inya Sang Mangukuhan, Sang Karungkalah, Sang Katungmaralah, Sang Sandanggreba, Sang Wretikandayun.

II
Hana paksi Si Uwur-uwur, paksi Si Naragati, nyayang di titrayatra Bagawat Resi Makandria. Dihakan anakna ku salakina. Diseuseul ku éwéna. Carék éwéna, “Papa urang, lamun urang teu dianak, jeueung Bagawat Resi Makandria. Ditapa sotéh papa, ja hanteu dianak.” Carék Bagawat Resi Makandria, “Dianak ku waya, ja éwé ogé hanteu.” Ti inya carék Bagawat Resi Makandria, “Aing dék leumpang ka Sang Resi Guru, ka Kéndan.” Datang siya ka Kéndan. Carék Sang Resi Guru, “Na naha siya Bagawat Resi Makandria, mana siya datang ka dinih?” – “Pun samapun, aya béja kami pun, kami ménta pirabieun pun. Kéna kami kapupulihan ku Paksi Si Uwur-uwur, paksi Si Naragati, papa baruk urang hanteu di na anak.” Carék Sang Resi Guru, “Leumpang siya ti heula ka batur siya deui, anaking Pwah Aksari Jabung, leumpang husir Bagawat Resi Makandria, na pideungeuneun satapa, anaking.” Leumpang Pwah Rababu, datang ka baturna, teu diaku rabi. Nyeueung inya wedadari geulis, ti inya nyieun manéh Pwah Manjangandara, na Bagawat Resi Makandria nyieun manéh Rakéyan Kebowulan, sida pasanggaman. Carék Sang Resi Guru, “Étén anaking, Pwah Sanghiyang Sri! Leumpang kita ngajadi ka lanceuk siya, ka Pwah Aksari Jabung.” Ti inya leumpang Pwah Sanghiyang Sri ngajadi, inya Pwah Bungatak Mangaléngalé.

III
Carék Sang Mangukuhan, “Nam adiing kalih, urang ngaboro leumpang ka tegal.” Sadatang ka tengah tegal, kasampak Pwah Manjangandara deung Rakéyan Kebowulan. Digérékeun ku sang pancaputra; beunangna samaya, asing nu numbak inya ti heula, nu ngeunaan inya, piratueun. Keuna ku tumbak Sang Wretikandayun, Kebowulan jeung Pwah Manjangandara. Lumpat ka patapaanana, datang paéh. Dituturkeun ku Sang Wretikandayun. Pwah Bungatak Mangaléngalé kasondong nginang deung Pwah Manjangandara; ku Sang Wretikandayun dibaan pulang ka Galuh, ka Rahiyangta ri Medangjati.

IV
Lawasniya adeg ratu lima welas tahun, disilihan ku Sang Wretikandayun di Galuh, mirabi Pwah Bungatak Mangaléngalé. Na Sang Mangukuhan nyieun manéh panghuma; Sang Karungkalah nyieun manéh panggérék, Sang Katungmaralah nyieun manéh panyadap; Sang Sandanggreba nyieun manéh padagang. Ku Sang Wretikandayun diadegkeun Sang Mangukuhan, Rahiyangtang Kulikuli ; sang Karungkalah diadegkeun Rahiyangtang Surawulan ; Sang Katungmaralah diadegkeun Rahiyangtang Pelesawi ; Sang Sandanggreba diadegkeun Rahiyangtang Rawunglangit. Sang Wretikandayun adeg di Galuh. Ti inya lumaku ngarajaresi, ngangaranan manéh Rahiyangta ri Menir. Basana angkat sabumi jadi manik sakurungan, inya nu nyieunna Purbatisti. Lawasniya ratu salapan puluh tahun. Disilihan ku Rahiyangtang Kulikuli, lawasniya ratu dalapan puluh tahun. Disilihan ku Rahiyangtang Sarawulan, lawasniya ratu genep tahun, katujuhna panteg kana goréng twah. Disilihan ku Rahiyangtang Rawunglangit, lawasniya adeg ratu genep puluh tahun.

V
Disilihan ku Rahiyangtang Mandiminyak. Seuweu Rahiyangta ri Menir, teluan sapilanceukan; anu cikal nya Rahiyang Sempakwaja, adeg Batara Dangiyang Guru di Galunggung; Rahiyangtang Kedul, adeg Batara Hiyang Buyut di Denuh; Rahiyangtang Mandiminyak adeg di Galuh. Carék Sang Resi Guru, “Karunya aing ka Rahiyang Sempakwaja hanteu diboga éwé. Anaking Pwah Rababu! Kita leumpang husir Rahiyang Sempakwaja, kéna inya pideungeuneun siya satapa.” Sang Resi ngagisik tipulung jadi jalalang bodas, leumpang ngahusir Rahiyang Sempakwaja, eukeur melit. Carék Rahiyang Sempakwaja, “Na naha jalalang bodas éta ?” Top sumpit. Nya mana dihusir, dék nyumpit inya. Kapanggih Pwah Rababu eukeur mandi di Sanghiyang Talaga Candana. Carék Rahiyang Sempakwaja, “Ti mana kéh, éta nu mandi ?” Éta diléléd sampingna ku sumpit. Beunang diléléd. Aya deungeunna Pwah Aksari kalih, tuluy lalumpatan ka tegal. Pwah Rababu dicokot ku Rahiyang Sempakwaja, dipirabi, dikasiahan na Pwah Rababu. Nya mana diseuweu, inya Rahiyang Purbasora, Rahiyang Demunawan, dwaan sapilanceukan.

VI
Ngareungeu tatabeuhan humung gumuruh tanpa parungon, tatabeuhan di Galuh. Pulang ka Galuh teter nu ngigel. Sadatang ka buruan ageung, carék Rahiyangtang Mandiminyak, “Sang Apatih, na saha éta?” “Béjana nu ngigel di buruan ageung.” “Éta bawa sinjang saparagi, iweu kéh pamalaan aing. Téhér bawa ku kita keudeukeudeu!” Leumpang sang apatih ka buruan ageung, dibaan ka kadatwan na Pwah Rababu. Dipirabi ku Rahiyangtang Mandiminyak, dirabi kasiahan na Pwah rababu. Diseuweu patemuan, dingaranan Sang Salah.

VII
Carék Rahiyang Sempakwaja, “Rababu leumpang! Ku siya bwatkeun budak éta ka Rahiyangtang Mandiminyak. Anteurkeun patemuan siya Sang Salahtwah.” Leumpang Pwah Rababu ka Galuh. “Aing dititah ku Rahiyang Sempakwaja mwatkeun budak éta, beunang siya ngeudeungeudeu aing téh.” Carék Rahiyangtang Mandiminyak, “Anak aing tu kita, Sang Salah.” Carék Rahiyangtang Mandiminyak, “Sang Apatih, ku siya teundeun kana jambangan. Bawa ka tegal!” Dibawa ku sang apatih ka tegal, sapamungkur sang apatih, ti tegal metu ikang aprama tog ka langit, kabireungeuh ku Rahiyangtang Mandiminyak. “Sang Apatih, husir deui teundeun siya, budak ta!” Dihusir ku sang apatih ka tegal, kasondong hirup. Dibaan ka hareupeun Rahiyangtang Mandiminyak. Dingaranan Sang Sénna.

VIII
Lawasniya ratu tujuh tahun. Na Rahiyangtang Mandiminyak disilihan ku Sang Séna. Lawasniya ratu tujuh tahun, disilih-jungkat ku Rahiyang Purbasora. Na Sang Séna diintarkeun ka Gunung Marapi, diseuweu Rakéyan Jambri. Ageung sakamantrian, lunga ka Rahiyangtang Kedul, ka Denuh, ménta dibunikeun. Carék Rahiyangtang Kedul, “Putu aing mumul kapangkukan ku siya, sugan siya kanyahoan ku ti Galuh. Leumpang siya husir Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa ring Kuningan, deung anak saha tu siya?” Carék Rakéyan Jambri, “Aing anak Rahiyang Sang Séna. Dijungkat, diintarkeun ku Rahiyang Purbasora.” “Lamun kitu, mawa boga kami ngasuhan. Ngan mulah mo sambut samaya aing. Moga ulah meunang prangan; lamun siya ngalaga prang ka kami. Ngan siya leumpang maratkeun, husir Tohaan di Sunda.” Sadatang ka Tohaan di Sunda, tuluy dipulung minantu ku Tohaan di Sunda. Ti inya ditinggalkeun, ngahusir Rabuyut Sawal. Carék Rabuyut Sawal, “Saha siya?” “Aing pun seuweu Sang Séna. Aing nanyakeun pustaka bawa Rabuyut Sawal. Eusina ma ratuning bala sariwu; pakeun séda, pakeun sakti, paméré Sang Resi Guru.” Dibikeun ku Rabuyut Sawal. Ti inya pulang ka Galuh Rakéyan Jambri. Tuluy diprang deung Rahiyang Purbasora. Paéh Rahiyang Purbasora. Lawasniya ratu tujuh tahun. Disilihan ku Rakéyan Jambri, inya Rahiyang Sanjaya.

IX
Carék Rahiyang Sanjaya, “Sang Apatih, leumpang siya, nanya ka Batara Dangiyang Guru ku piparintaheun urang inih!” Sadatang sang apatih ka Galunggung, carék Batara Dangiyang Guru, “Na naha béja siya, Sang Apatih?” “Pun, kami dititah ku Rahiyang Sanjaya ménta piparintaheun, adi Rahiyang Purbasora.” Hanteu dibikeun ku Batara Dangiyang Guru. Carék Batara Dangiyang Guru, “Rahiyang Sanjaya, leumpang nyandogé manéh. Éléhkeun Guruhaji Pagerwesi, éléhkeun Guruhaji Mananggul, éléhkeun Guruhaji Tepus, éléhkeun Guruhaji Balitar. Lunga Rahiyang Sanjaya ; éléhkeun Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa ring Kuningan. Nyandogé na kasaktian, kénana ta Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa ring Kuningan, hanteu kawisésa Dangiyang Guru. Mana ingéléhkeun, inya sakti.” Rahiyang Sanjaya ka Kuningan, tuluy diprang. Éléh Rahiyang Sanjaya. Digérékan, teka ring loh Kuningan, undur Rahiyang Sanjaya. “Dara aing para dinih, digérékan. Éléh pun kami.” Ti inya pulang deui ka Galuh, Rahiyang Sanjaya. Sang Wulan, Sang Tumanggal pulang deui ka Arilé. Rahiyang Sanjaya tuluy marék ka Batara Dangiyang Guru. Carék Batara Dangiyang Guru, “Rahiyang Sanjaya, naha béja siya datang ka dinih?” “Aya pun béja kami, pun kami dipiwarang, éléh pun kami, supén pun kami. Kami meunang ku jadi, pun gumanti diboroan ku Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa ring Kuningan.” Pulang deui Rahiyang Sanjaya ka Galuh.

X
Carék Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang pandawa ring Kuningan, “Mawa pisajieun leumpang ka Galunggung, widihan sajugala ma, palangka wulung, munding satempahan, bras sapadangan.” Sateka siya ka Galunggung, mandeg ring Pakembangan. Kasondong ku Pakembangan, majar ka Batara Dangiyang Guru. Carék Dangiyang Guru, “Naha béja siya ?” “Pun Batara Dangiyang Guru! Aya Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa di Kuningan.” “Bagéa amat, siya datang ka dinih. Leumpang siya ka Galuh. Ala Rahiyang Sanjaya, mangka mawa pisajieun; widihan sajugala ma, saha palangka wulung, munding satémpahan, kawali wesi, bras sapadangan.” Sadatang siya ka Galuh, carék Rahiyang Sanjaya, “Naha béja siya, Pakembangan?” “Kami pun disuruh ku Dangiyang Guru. Rahiyang Sanjaya mangka nu sangkep mawa pisajieun. Aya Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa ring Kuningan.” Lunga Rahiyang Sanjaya. Téka ri hareupeun Dangiyang Guru, carék Batara Dangiyang Guru, “Rahiyang Sanjaya! Lamun kawisésa ku siya Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa ring Kuningan, aing nurut carék siya. Ja beunang ku aing kawisésa, turut carékéng! Ja aing wenang nuduh tan katuduh. Ja aing anak déwata.” Sang Wulan, Sang Tumanggal, Sang Pandawa ring Kuningan kawisésa ku Batara Dangiyang Guru. Sang Wulan dijieun Guruhaji Kajaron. Sang Tumanggal dijieun Guruhaji Kalanggara di Balamoha. Sang Puki jadi Guruhaji Pagerwesi. Sang Manisri dijieun Buyuthadén Rahaséa, di Puntang. Buyuthadén Tunjungputih di Kahuripan. Buyuthadén Sumajajah di Pagajahan. Buyuthadén Pasugihan di Batur. Buyuthadén Padurungan di Lembuhuyu. Buyuthadén Darongdong di Balaraja. Buyuthadén Pager gunung di Muntur. Buyuthadén Muladarma di Parahiyangan. Buyuthadén Batutihang di Kuningan.

XI
Rahiyang Sanjaya kawekasan ring Medang. Ratu ring Galuh, Sang Seuweukarma. Ikang ari ratu Galuh, mananem sarwijagih Dadalem gawey puja, lilir désa, séwabakti ring Batara Upati. Rahiyangtang Wéréh, maka siya dingaran Rahiyangtang Wéréh, masa siya tinggal anak sapilanceukan. Rahiyangtang Kedul wurung ngadeg haji, kena rohang, ja mangka ngaran Rahiyang Sempakwaja. Rahiyangtang Kedul wurung ngadeg ratu kena kemir, ngaran mangadeg Wikuraja. Siya jadi Tohaan di Kuningan, anakna ditapa, tu siya seuweu Rahiyang Sempakwaja. Ujar Rahiyang Sanjaya, “Sama sanak ring aing aki! Lamun kitu ma karah. Ulah anggeus narahan aing aki, sang apatih!” Ujar sang apatih, “Mangka dapet deui urang nyayangan Sanghiyang Darmasiksa, mulah mo déngé!” Carékna patih kalih ka Rahiyang Sanjaya, “Lamun dék jaya prangrang, mangkat ti Galuh!” Prangrang ka Mananggul, éléh sang ratu Mananggul, Pwanala panulak sanjata. Tuluy ka Kahuripan, diprangrang, éléh Kahuripan, na Rahiyangtang Wulukapeu nungkul. Tuluy ka Kadul, diprangrang, éléh Rahiyang Supena, nungkul. Tuluy ka Balitar, diprang, éléh sang ratu Bima. Ti inya Rahiyang Sanjaya nyabrang ka désa Malayu. Diprang di Kemir, éléh Rahiyangtang Gana. Diprang deui ka Keling, éléh Sang Sriwijaya. Diprangrang ka Barus, éléh Ratu Jayadana. Diprang ka Cina, éléh Patih Sarikaladarma. Pulang Rahiyang Sanjaya ka Galuh ti sabrang. Ndéh humeneng.

XII
Rahiyangtang Kuku, Sang Seuweukarma diArile, diheueumdeungna para patih; gusti winekasan pangajaran kaparamartan. “Nam urang marek, mawa tanggung ka Rahiyang Sanjaya. Mupu omas sakati, gangsal (buhniya), bawaeun urang ka Rahiyang Sanjaya.” Ti inya diheueum deui di Galuh deu(ng) para patih kali(h). “Nam, urang nyieun labur di jalan gedé pakeun nyungsung Sang Seuweukarma, ja turut Rahiyangtang Kuku.” Sateka ka sisi(m)pang(an) ka Galuh deung ka Galunggung, disungsung, disocaan. Ujar Rahiyangtang Kuku, “Sang apatih, bawa kami marék ka Rahiyang Sanjaya. Ornas sakati, gangsal boéhniya.” Ujar sang apatih, “Pun Tohaan! Hanteu dipilarang na omas na beusi ku Rahiyang Sanjaya, hengan huripna urang réa dipilarang.” Andéh kahimengan Rabiyangtang Kuku, pulang deui ka Arile. Diheueum deungna para patih kalih. Ujar Rahiyangtang Kuku, “Na naha pakeun urang bakti ka Rahiyang Sanjaya?”

XIII
Sakitu ménakna, ini tangtu Rahiyang Sempakwaja. Ndéh nihan ta ujar Rahiyangtang Kuku, lunga ka Arile, ngababakan na Kuningan. Kareungeu ku Rahiyangtang Kuku, inya Sang Seuweukarma ngadeg di Kuningan, seuweu Rahiyang Sempakwaja; ramarénana pamarta ngawong rat kabéh. Dayeuh paradayeuh, désa paradésa, nusa paranusa. Ti KeIing bakti ka Rahiyangtang Kuku: Rahiyangtang Luda di Puntang. Rahiyangtang Wulukapeu di Kahuripan. Rahiyangtang Supremana di Wiru. Rahiyang Isora di Jawa. Sang ratu Bima di Bali. Di kulon di Tungtung Sunda nyabrang ka désa Malayu: Rahiyangtang Gana ratu di Kemir. Sang Sriwijaya di Malayu. Sang Wisnujaya di Barus. Sang Brahmasidi di Keling. Patihnira Sang Kandarma di Berawan. Sang Mawuluasu di Cimara-upatah. Sang Pancadana ratu Cina. Pahi kawisésa, kena inya ku Rahiyangtang Kuku. Pahingadegkeun haji sang manitih Saunggalah. Pahi ku Sang Seuweukarma kawisésa, kena mikukuh tapak Dangiyang Kuning. Sangucap ta Rahiyang Sanjaya di Galuh, “Kumaha sang apatih, piparéntaheun urang ?. Hanteu di urang dipikulakadang ku Rahiyangtang Kuku. Sang apatih, leumpang, dugaan ku kita ka Kuningan. Sugan urang dipajar koyo ilu dina kariya, ja urang hanteu dibéré nyahoan, daék lunga.” Sang patih teka maring Kuningan, marék ka kadaton, umun bakti ka Rahiyangtang Kuku. Ujar Rahiyangtang Kuku, “Deuh sang apatih, na naha na béja kita, mana kita datang ka dinih?” Ujar sang apatih, “Kami pun dititahan Rahiyangtang Sanjaya. Disuruh ngadugaan ka dinih. Saha nu diwastu dijieun ratu?” Carék Rahiyangtang Kuku, “U sang apatih, yogya aing diwastu dijieun ratu ku na urang réa. Ngan ti Rahiyang Sanjaya ma hanteu nitah ku dék kulakadang deung hamo ka kami, ja bogoh maéhan kulakadang baraya. Ja aing ogé disalahkeun ka Kuningan ku Rahiyang Sempakwaja. Aing beunang Rahiyang Sempakwaja nyalahkeun ka Kuningan ini. Mana aing mo dijaheutan ku Rahiyang Sanjaya.” Pulang deui sang apatih ka Galuh. Ditanya ku Rahiyang Sanjaya, “Aki, kumaha carék Rahiyangtang Kuku ka urang?” “Pun Rahiyang Sanjaya! Rahiyangtang Kuku teu meunang tapana. Mikukuh Sanghiyang Darma kalawan Sanghiyang Siksa. Nurut talatah Sang Rumuhun, gawayangkeun awak carita. Boh kéh ku urang turut tanpa tingtimanana. Biyaktakeun ku urang, ja urang sarwa kaputraan, urang deung Tohaan pahi anak déwata. Ndéh inalap pustaka ku Rahiyang Sanjaya. Sadatang inungkab ikang pustaka. Sabdana tangkarah, “Ong awignam astu krétayugi balem raja kretayem rawanem sang tata dosamem, sewa ca kali cab pratesora sang aparanya ratuning déwata sang adata adininig ratu déwata sang sapta ratu na caturyuga.” “Dah umangen-angen ta Sang Resi Guru sidem magawéy Sang Kandiawan lawan Sang Kandiawati. Mangkana manak Rahiyangtang Kulikuli, Rahiyangtang Surawulan, Rahiyangtang Pelesawi. Rahiyangtang Rawunglangit, kamiadi Sang Wretikandayun. Sang Wretikandayun mangka manak Rahiyangtang Sempakwaja, Rahiyangtang Mandiminyak. Rahitangtang Mandiminyak mangka manak Sang Séna, Rahiyang Sang Séna mangka manak Rahiyang Sanjaya.” Bo geulisan Dobana bawa bahetra piting deupa, bukana bwatan sarwo sanjata. “Urang ka nusa Demba!” Data sira lunga balayar. Kareungeu ku Sang Siwiragati. Dek mwatkeun Pwah Sang kari Pucanghaji Tunjunghaji ditumpakkeun dina liman putih. Dék ngajangjang turut buruan; momogana teka Rahiyangtang Kuku, Sang Seuweukarma ka nusa Demba, tuluy ka kadatwan, calik tukangeun Sang Siwiragati. Rahiyangtang Kuku dihusir ku liman putih, lumpat ka buruan mawa Pwah Sangkari. Hanteu aya pulang deui ka kadatwan liman putih ta, bakti ka Rahiyangtang Kuku. Pulang deui Rahiyangtang Kuku ka Arile, dibawa na liman putih deung Pwah Sangkari. Manguni : “Naha hanteu omas saguri, sapetong, sapaha sapata-payan?” Tuluy ka Galuh ka Rahiyang Sanjaya, hanteu sindang ka Arile. Dibawa na liman putih, dirungkup ku lungsir putih tujuh kayu diwatang ku premata mas mirah komara hinten. Datang siya ti désa Demba, tuluy ka kadatwan. Sateka Rahiyangtang Kuku ring kadaton, mojar ka Rahiyang Sanjaya. naha suka mireungeuh liman putih. Tanyana: “Mana?” “Tuluy dipitutunggangan, diaseukeun Pwah Sangkari ka Rahiyang Sanjaya. Sateka ring dalem hanteu pulang deui. Dah Rahiyang Sanjaya: “Naha tu karémpan? Aing ayeuna kreta, aing deung bapangku, Rahiyangtang Kuku, Sang Seuweukarma. Hanteu ngalancan aing ayeuna. Ajeuna nu tangkarah : “Alas Dangiyang Guru di tengah, alas Rahiyang Isora di wétan paralor Paraga deung Cilotiran, ti kulon Tarum, ka kulon alas Tohaan di Sunda.” Dah sedeng pulang Rahiyangtang Kuku ka Arile, sadatang ka Arile panteg hanca di bwana, ya ta sapalayaga dirgadisi lodah. Mojar Rahiyang Sanjaya, ngawarah anaknira Rakéan Panaraban, inya Rahiyang Tamperan: “Haywa dék nurutan agama aing, kena aing mretakutna urang réya.” Lawasniya ratu salapan tahun, disiliban ku Rahiyang Tamperan.

XV
Tembey Sang Resi Guru ngayuga taraju Jawadipa, taraju ma inya Gulunggung, Jawa ma ti wétan. Di pamana Sunda hana pandita sakti, ngaraniya Bagawat Sajalajala, pinejahan tanpa dosa. Mangjanma inya Sang Manarah, anak Rahiyang Tamperan, dwa sapilanceukan denung Rahiyang Banga. Sang Manarah males hutang; Rahiyang Tamperan sinikep deneng anaknira. Ku Sang Manarah dipanjara wesi na Rahiyang Tamperan. Datang Rahiyang Banga, ceurik, teher mawakeun sekul kana panjara wesi, kanyahoan ku Sang Manarah. Tuluy diprangrang deung Rahiyang Banga. Keuna mukana Rahiyang Banga ku Sang Manarah. Ti inya Sang Manarah adeg ratu di Jawa pawwatan. Carék Jawana, Rahiyang Tamperan lawasniya adeg ratu tujuh tahun, kena twah siya bogoh ngarusak nu ditapa, mana siya hanteu heubeul adeg ratu. Sang Manarah, lawasniya adeg ratu dalapanpuluh tahun, kena rampés na agama. Sang Manisri lawas adeg ratu geneppuluh tahun, kena isis di Sanghiyang Siksa. Sang Tariwulan lawasniya ratu tujuh tahun. Sang Welengan lawasniya ratu tujuh tahun.

XVI
Ndéh nihan tembey Sang Resi Guru miseuweukeun Sang Haliwungan, inya Sang Susuktunggal nu munar na Pakwan reujeung Sanghiyang Haluwesi, nu nyaeuran Sanghiyang Rancamaya. Mijilna ti [42] Sanghiyang Rancamaya : “Ngaran kula ta Sang Udubasu, Sang Pulunggana, Sang Surugana, ratu hiyang banaspati.” Sang Susuktunggal inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja, ratu haji di Pakwan Pajajaran. Nu mikadatwan Sri – bima - untarayanamadura – suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratudéwata. Kawekasan Sang Susuktunggal, pawwatanna lemah suksi, lemah hadi, mangka premana raja utama. Lawasniya ratu saratus tahun.

XVII
Rahiyang Banga lawasnia ratu tujuh tahun, kena twah siya, mo makéyan agama bener. Rakéyanta ri Medang lawasniya adeg ratu tujuh tahun. Rakéyanta Diwus lawasniya ratu opatlikur tahun. Rakéyanta Wuwus lawasniya ratu tujuhpuluhdua tahun. Sang lumahing Hujung Cariang, lawasniya ratu telu tahun, kaopatna panteg kena salah twah, daék ngala éwé sama éwé. Rakéyan Gendang lawaniya ratu telulikur tahun. Déwa Sanghiyang lawasniya ratu tujuh tahun. Prebu Sanghiyang lawasniya ratu sawelas tahun. Prebu Ditiya Maharaja lawasniya ratu tujuh tahun. Sang lumahing Winduraja lawasniya ratu telulikur tahun. Sang lumahing Kreta lawasniya ratu salapanpuluhdua tahun, kena mikukuh na twah rampés, turun na kretayuga. Disiliban deui ku Sang lumahing Winduruja, teu heubeul adeg, lawasniya ratu dalapanwelas tahun. Disilihan deui ku Sang Rakéyan Darmasiksa, pangupatiyan Sanghiyang Wisnu, inya nu nyieun sanghiyang binayapanti, nu ngajadikeun para kabuyutan ti sang rama, ti sang resi, ti sang disri, ti sang tarahan, tina parahiyangan. Ti naha bagina? Ti sang wiku nu ngawakan jati Sunda, mikukuh Sanghiyang Darma ngawakan Sanghiyang Siksa. Lawasniya ratu saratuslimapuluh tahun. Manak Sang lumahing Taman lawasniya ratu genep tahun. Manak deui Sang lumahing Tanjung, lawasnija ratu dalapan tahun. Manak Sang lumahing Kikis, lawasniya ratu dwalikur tahun. Sang lumahing Kiding, lawasniya ratu sapuluh tahun. Manak Aki Kolot, lawasniya ratu sapuluh tahun.

XVIII
Manak deui Prebu Maharaja, lawasniya ratu tujuh tahun, kena kabawa ku kalawisaya, kabancana ku seuweu dimanten, ngaran Tohaan. Mundut agung dipipanumbasna. Urang réya sangkan nu angkat ka Jawa, mumul nu lakian di Sunda. Pan prangrang di Majapahit. Aya na seuweu Prebu, wangi ngaranna, inyana Prebu Niskalawastu Kancana nu surup di Nusalarang ring giri Wanakusuma. Lawasniya ratu saratusopat tahun, kena rampés na agama, kretajuga. Tandang pa ompong jwa pon, kenana ratu élé h ku satmata. Nurut nu ngasuh Hiyang Bunisora, nu surup ka Gegeromas. Batara Guru di Jampang. Sakitu nu diturut ku nu mawa lemahcai. Batara Guru di Jampang ma, inya nu nyieun ruku Sanghiyang Pak é, basa nu wastu dijieun ratu. Beunang nu pakabrata séwaka ka d éwata. Nu di tiru ogé paké Sanghiyang Indra, ruku ta. Sakitu, sugan aya nu d ék nurutan inya twah nu surup ka Nusalarang. Daé k él éh ku satmata. Mana na kretajuga, él éh ku nu ngasuh. Nya mana sang rama énak mangan, sang resi é nak ngaresisasana, ngawakan na purbatisti, purbajati. Sang disri énak masini ngawakan na manusasasana, ngaduman alas pari-alas. Ku b éét hamo diukih, ku gedé hamo diukih. Nya mana sang Tarahan énak lalayaran ngawakan manu-rajasasana. Sanghiyang apah, teja, bayu, akasa, sangbu énak-énak,ngalungguh di sanghiyang Jagatpalaka. Ngawakan sanghiyang rajasasana, angadeg wiku énak di Sanghiyang Linggawesi, brata siya puja tanpa lum. Sang wiku énak ngadéwasasana ngawakan Sanghiyang Watang Ageung, énak ngadeg manu-rajasuniya. Tohaan di Galuh, inya nu surup di Gunungtiga. Lawasniya ratu tujuh tahun, kena salah twah bogoh ka é stri larangan ti kaluaran.

XIX
Disilihan ku Prebu, naléndraputra premana, inya Ratu Jayadéwata, sang mwakta ring Rancamaya, lawasniya ratu telu puluh salapan tahun. Purbatisti, purbajati, mana mo kadatangan ku musuh ganal, musuh alit. Suka kreta tang lor, kidul, kulon, wétan, kena kreta rasa. Tan kreta ja lakibi dina urang réya, ja loba di Sanghiyang Siksa.

XX
Disilihan inya ku Prebu Surawisésa, inya nu surup ka Padaré n, kasuran, kadiran, kuwamén. Prangrang limawelas kali hanteu éléh, ngalakukeun bala sariwu. Prangrang ka Kalapa deung Aria Burah. Prangrang ka Tanjung. Prangrang ka Ancol kiyi. Prangrang ka Wahanten girang. Prangrang ka Simpang. Prangrang ka Gunungbatu. Prangrang ka Saungagung. Prangrang ka Rumbut. Prangrang ka Gunung. Prangrang ka Gunung Banjar. Prangrang ka Padang. Prangrang ka Panggoakan. Prangrang ka Muntur. Prang rang ka Hanum. Prangrang ka Pagerwesi. Prangrang ka Medangkahiyangan. Ti inya nu pulang ka Pakwan deui. hanteu nu nahunan deui, panteg hanca di bwana. Lawasniya ratu opatwelas tahun.

XXI
Prebu Ratudé wata, inya nu surup ka Sawah-tampian-dalem. Lumaku ngarajaresi. Tapa Pwah Susu. Sumbé lé han niat tinja bresih suci wasah. Disunat ka tukangna, jati Sunda teka. Datang na bancana musuh ganal, tambuh sangkané. Prangrang di burwan ageung. Pejah Tohaan Saréndét deung Tohaan Ratu Sanghiyang. Hana pandita sakti diruksak, pandita di Sumedeng. Sang panadita di Ciranjang pinejahan tanpa dosa, katiban ku tapak kikir. Sang pandita di Jayagiri Iinabuhaken ring sagara. Hana sang pandita sakti hanteu dosana. Munding Rahiyang ngaraniya linabuhaken ring sagara tan keneng pati, hurip muwah, moksa tanpa tinggal raga teka ring duniya. Sinaguhniya ngaraniya Hiyang Kalingan. Nya iyatnajatna sang kawuri, haywa ta sira kabalik pupuasaan. Samangkana ta précinta. Prebu Ratudé wata, lawasniya ratu dalapan tahun, kasalapan panteg hanca dina bwana.

XXII
Disilihan ku Sang Ratu Saksi Sang Mangabatan ring Tasik, inya nu surup ka Péngpéléngan. Lawasniya ratu dalapan tahun, kenana ratu twahna kabancana ku estri larangan ti kaluaran deung kana ambutéré. Mati-mati wong tanpa dosa, ngarampas tanpa prégé, tan bakti ring wong-atuha, asampé ring sang pandita. Aja tinut dé sang kawuri, polah sang nata. Mangkana Sang Prebu Ratu, carita inya.

XXIII
Tohaan di Majaya alah prangrang, mangka tan nitih ring kadatwan. Nu ngibuda Sanghiyang Panji, mahayu na kadatwan, dibalay manelah taman mihapitkeun dora larangan. Nu migawe bale-bobot pituweJas jajar, tinulis pinarada warnana cacaritaan.

XXIV
Hanteu ta yuga dopara kasiksa tikang wong sajagat, kreta ngaraniya. Hanteu nu ngayuga sanghara, kreta, kreta. Dopara luha gumenti tang kali. Sang Nilak éndra wwat ika sangké lamaniya manggirang, lumekas madumdum cereng. Manga nugraha weka, hatina nunda wisayaniya, manurunaken pretapa, putu ri patiriyan. Cai tiningkalan nidra wisaya ning baksa kilang. Wong huma darpa mamangan, tan igar yan tan pepelakan. Lawasniya ratu kampa kalayan pangan, ta tan agama gayan kewaliya mamangan sadirasa nu surup ka sangkan beunghar. Lawasniya ratu genepwelas tahun.

XXV
Disilihan ku Nusiya Mulia. Lawasniya ratu sadewidasa, tembey datang na prebeda. Bwana alit sumurup ring ganal, metu sanghara ti Selam. Prang ka Rajagaluh, élé h na Rajagaluh. Prang ka Kalapa, él éh na Kalapa. Prang ka Pakwan, prang ka Galuh, prang ka Datar, prang ka Madiri, prang ka Paté gé, prang ka Jawakapala, él éh na JawakapaJa. Prang ka Galé lang. Nyabrang, prang ka Salajo, pahi éléh ku Selam. Kitu, kawisésa ku Demak deung ti Cirebon, pun.

***

Carita Parahiyangan: Naskah Titilar Karuhun Urang Sunda. Atja, Jajasan Kebudajaan Nusalarang, Bandung – 1968.

Sabtu, 10 Agustus 2013

Parigeuing Gaya Kapamimpinan (LEADERSHIP) Prabu Siliwangi

Kapamingpinan dina masarakat Sunda, nurutkeun Naskah Kuna Sanghiyang Siksa Kandang Karesian. Ieu naskah kuna teh asli titinggal karuhun Sunda taun 1518 Masehi (Prabu Siliwangi / Jayadewata pupusna taun 1521 Masehi) anu disundakeun deui kana basa ayeuna ku Drs. Saleh Danasasmita 1985. Ari aksarana ngagunakeun aksara “Ratu Pakuan”, lain Cacarakan. Basana Basa Sunda Buhun.

Dina naskah Kuna ieu teh aya palanggeran, tuduh laku tatakrama pikeun jadi pamingpin di masarakat jaman harita. Sanajan kitu eta palanggeran teh tetep gede gunana pikeun jadi palanggeran pamingpin Sunda jaman ayeuna. Eta palanggeran teh disebut PARIGEUING. 


PARIGEUING
Dina Basa Sunda jaman abad ka 15/16 masehi, disebutkeun yen Parigeuing teh nya eta : “Parigeuing mah ngaranna : bisa nitah bisa miwarang, ja sabda arum wawangi, nya mana hanteu surah nu dipiwarang”. Upama ku basa Sunda jaman ayeuna mah hartina : “Nu disebut Parigeuing teh nyaeta bisa marentah bisa miwarang ku caritaan nu pikagenaheun tepi ka teu matak jengkel nu diparentahna”. 


DASA PASANTA

Pikeun bisa ngalaksanakeun Parigeuing teh carana kudu bisa ngalaksanakeun heula Dasa Pasanta (hartina Sapuluh Panengtrem Hate). Maksudna kumaha carana pikeun nengtremkeun hate jelema nu diparentah supaya dina digawena teh iklas tur sumangetna ngagedur.
Ari panengtrem hate anu sapuluh rupa teh nyaeta:
  • Guna. Tegesna jelema nu diparentah teh kudu ngarti-eun naon gunana tina nu diparentahkeun teh.
  • Ramah. Parentah kudu ditepikeun kalawan wajar jeung sareh, ramah tamah, amis budi. Bakal ngarasaeun dihargaan sabage manusa nu boga ajen pribadina. 
  • Hook. Hookeun (B.Ind: kagum). Parentah karasana saperti gambaran hookeunana (kekaguman) kana kabisana (kamampuh) nu diparentahna. 
  • Pesok. Hartina kapikat hatena (reueus). Jadi parentah kudu ditepikeun ku cara nu matak kapikat hate, nu nimbulkeun rasa reueus dina dirina.
  • Asih. Nyaeta rasa nyaah. Tepi ka karasaeun yen dirina teh lir ibarat babagian tina diri nu marentahna. Jadi milu tanggungjawabna teh bari gembleng hate.
  • Karunia/Karunya. Tegesna parentah karasaeunana saperti rasa kanyaah (karunya) jeung oge mangrupa kurnia kapercayaan kana kamampuh dirina. 
  • Mukpruk. Tegesna kudu bisa ngalelemu. Tepi ka ngarasa yen digawe teh lain kapaksa, tapi geus jadi tugasna. 
  • Ngulas. Ayeuna dina Basa Indonesia disebut mengulas. Tegesna kudu bisa mere komentar (ulasan) kana pagawean bawahan ku cara nu surti tur lantip. 
  • Nyecep. Tegesna bisa niiskeun pikir nu diparentah, supaya genaheun pikirna. Boh ku lisan komo bari aya lar barangberena mah. 
  • Ngala angen. Nyaeta bisa narik simpati bawahan. Carana ku ngantengkeun silaturahmi nu wajar. Bakalna timbul rasa satia (loyal) ka pamingpinna.

    PANGIMBUHNING TWAH 

    Jaba ti Parigeung jeung Dasa Pasanta teh, dina naskah eta keneh aya nu disebut Pangimbuhning Twah, nyaeta pituduh tatakrama hirup kumbuh sapopoe, sangkan manusa hirupna teh boga pamor (B.Ind: bertuah). Upama disundakeun ayeuna mah hartina teh Pangjangkep Pikeun Boga Pamor.
    Aya 12 pangjangkep tatakrama nu kudu dicumponan ku unggal jelema teh nyaeta:
    • Emet. Tegesna digunakeun saeutik-saeutik (saemet-emet) supaya kapakena. Hartina henteu konsumtif.
    • Imeut. Tegesna taliti euweuh nu kaliwat (B.Ind: cermat). 
    • Rajeun. Saharti jeung rajin. Bisa ngamangpaatkeun waktu. 
    • Leukeun. Saharti jeung junun, suhud (B. Ind : tekun). Bakalna teh tepi ka nu dimaksud jeung loba hasilna. 
    • Pakapradana. Bisa dihartikeun sonagar, wanter. Bisa oge dihartikeun pantes barangpakena. 
    • Morogol-rogol. Hartina boga karep pikeun maju, gede sumanget, henteu elehan. Ulah soteh murugul, nyaeta sipat jelema nu hayang meunang sorangan. 
    • Purusa ning Sa. Hartina boga jiwa pahlawan. Wani nangtung panghareupna dina aya kasulitan. Tara nyalahkeun batur. Gede rasa tulung tinulungna. 
    • Widagda. Tegesna wijaksana. Pikiran jeung rasana (rasio katut rasana) bakal saimbang. Mikirna bisa cekas tur adil. 
    • Gapitan. Hartina wani bakorban pikeun kayakinan dirina. 
    • Karawaleya. Tegesna balabah (B.Ind: dermawan), resep tulung tinulungan. 
    • Cangcingan. Ayeuna sok disebut cingceung, tangginas (B.Ind : gesit). 
    • Langsitan. Bisa dihartikeun rapekan, terampil, binangkit, binekas. Ceuk basa ayeuna mah loba niley pleusna.
    Tapi aya 4 pasipatan (tatakrama nu teu hade, anu non etis), nu dipahing ku para luluhur Urang Sunda, diebutna PAHARAMAN nyaeta:
    • Pundungan. Ayeuna oge istilah pundungan dipiwanoh keneh. Moal boga sobat. Hirupna moal maju. 
    • Babarian. Ayeuna mah sok disebut gampang kasigeung (B.Ind: mudah tersinggung). Moal boga sobat. Hese maju. Hese meunang pitulung. 
    • Humandeuar. Ieu teh kaasup pasipatan nu kacida gorengna. Tanda hengker jiwana. Teu mampuh nyanghareupan kasulitan. 
    • Kukulutus. Ieu mah pasipatan anu panggoreng-gorengna, kitu ceuk karuhun baheula. Hirup bakal munapek. Beungeut nyanghareup ati mungkir, bengkok sembah ngijing sila. Digawena puraga tamba kadengda. Kasatianana saeutik pisan. Bisa ngahianat ka dunungan atawa ka babaturan. 
    Dicatut ti sundanet.com

    Wasiat Mahaprabu Wastu Kancana

    Sanghyang Tapak (Situs Linggahiang - Astana Gede Kawali)
    Teguhkeun, pageuhkeun sahinga ning tuhu, pepet byakta warta manah, mana kreta na bwana, mana hayu ikang jagat kena twah ning janma kapahayu.

    Kitu keh, sang pandita pageuh kapanditaanna, kreta ;
    sang wiku pageuh di kawikuanna, kreta ;
    sang ameng pageuh di kaamenganna, kreta ;
    sang wasi pageuh dikawalkaanna, kreta ;
    sang wong tani pageuh di katanianna, kreta ;
    sang euwah pageuh di kaeuwahanna, kreta ;
    sang gusti pageuh di kagustianna, kreta ;
    sang mantri pageuh di kamantrianna, kreta ;
    sang masang pageuh di kamasanganna, kreta ;
    sang tarahan pageuh di katarahanna, kreta ;
    sang disi pageuh di kadisianna, kreta ;
    sang rama pageuh di karamaanna, kreta ;
    sang prebu pageuh di kaprebuanna, kreta.
    Ngun sang pandita kalawan sang dewarata pageuh ngretakeun ing bwana, nya mana kreta lor kidul wetan sakasangga dening pretiwi sakakurung dening akasa, pahi manghurip ikang sarwo janma kabeh.

    (Teguhan, kukuhkan batas-batas kebenaran, penuhi kenyataan niat baik dalam jiwa, maka akan sejahteralah dunia, maka akan sentosalah jagat ini sebab perbuatan manusia yang penuh kebajikan).

    Demikianlah hendaknya. Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejahtera.

    Bila wiku teguh dalam tugasnya sebagai wiku, akan sejahtera.

    Bila manguyu teguh dalam tugasnya sebagai ahli gamelan, akan sejahtera.

    Bila paliken teguh dalam tugasnya sebagai ahli seni rupa, akan sejahtera.

    Bila ameng teguh dalam tugasnya sebagai pelayan biara, akan sejahtera.

    Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejahtera.

    Bila wasi teguh dalam tugasnya sebagai santi, akan sejahtera.

    Bila ebon teguh dalam tugasnya sebagai biarawati, akan sejahtera.

    Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejahtera.

    Demikian pula bila walka teguh dalam tugasnya sebagai pertapa yang berpakaian kulit kayu, akan sejahtera.

    Bila petani teguh dalam tugasnya sebagai petani, akan sejahtera.

    Bila pendeta teguh dalam tugasnya sebagai pendeta, akan sejahtera.

    Bila euwah teguh dalam tugasnya sebagai penunggu ladang, akan sejahtera.

    Bila gusti teguh dalam tugasnya sebagai pemilik tanah, akan sejahtera.

    Bila menteri teguh dalam tugasnya sebagai menteri, akan sejahtera.

    Bila masang teguh dalam tugasnya sebagai pemasang jerat, akan sejatera.

    Bila bujangga teguh dalam tugasnya sebagai ahli pustaka, akan sejahtera.

    Bila tarahan teguh dalam tugasnya sebagai penambang penyebrangan, akan sejahtera.

    Bila disi teguh dalam tugasnya sebagai ahli obat dan tukang peramal, akan sejahtera.

    Bila rama teguh dalam tugasnya sebagai pengasuh rakyat, akan sejahtera.
    Bila raja (prabu) teguh dalam tugasnya sebagai raja, akan sejahtera.

    Demikian seharusnya pendeta dan raja harus teguh membina kesejahteraan didunia, maka akan sejahteralah di utara barat dan timur, diseluruh hamparan bumi dan seluruh naungan langit, sempurnalah kehidupan seluruh umat manusia).


    Wasiat Wastu Kencana dari naskah Sanghyang siksakanda (Koropak 630)