Senin, 02 September 2013

Sebuah Prosesi Ngaji Diri

Oleh : Abdul Latif/ Kabar Priangan

 Rombongan Prabu Linggabuana yang mengantar putri Kerajaan Sunda Galuh Dyah Pitaloka Citraresmi tiba di Bubat. Dua utusan Raja Sunda menghadap Patih Gajah Mada memberi kabar tentang kedatangan rombongan pengantin dari sunda sudah tiba.
Niat kedatangan Raja Sunda yang hanya diiringi sedikit perajut untuk mengantar calon pengantin bagi Raden Wijaya, Raja Majapahit, sedikit pun tidak menaruh curiga akan terjadi petaka. Mempererat hubungan silaturahmi antar Sunda dan Majapahit yang mulai renggang.
Namun Patih Gajah Mada berasumsi beda. Ambisinya untuk menyatukan kerajaan yang ada di Nusantara sebagai wujud Sumpah Palapa beralasan lain. Kedatangan rombongan Sunda di Bubat sebagai wujud penyerahan Sunda ke Majapahit. Putri Dyah Pitaloka dianggap bukan sebagai pengantin tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda atas Majapahit.
Rombongan Kerajaan Sunda tersinggung. Pertempuran pun terjadi di Bubat. Prabu Linggabuana terbunuh. Putri Dyah Pitaloka memutuskan untuk bunuh diri di hadapan tubuh ayahnya yang sudah terbujur kaku.
Peristiwa Perang Bubat yang terjadi pada tahun 1279 Saka atau 1357 M pada abad ke-14 dipentaskan oleh teater Paseban dalam lakon "Gentala Bubat" karya Hadi AKS pada helaran Budaya Nyiar Lumar di Astana Gede Kawali Minggu (8/7) dini hari.
Lebih dari 60 aktor siswa SMP dan SMA di Kawali terlibat dalam cerita sejarah pilu bagi warga Sunda 655 tahun silam. Balong Saat di kawasan Astana Gede "dirarangkenan" menjadi panggung alam yang membawa larut semua pengunjung.
Gambaran peristiwa lampau sedikit tergambar saat menyaksikan pentas "Gentala Bubat" meski pun tidak ditunjang dengan pencahayaan sempurna. Rembulan sisa purnama menjadi "lighting" utama pentas yang ditunjang dengan lampu cempor minyak tanah.
Perang Bubat sudah menjadi pagelaran wajib "Nyiar Lumar" yang hingga saat inu sudah delapan kali digelar.
"Ini sebagai bahan renungan agar kita orang Sunda "tong sok haripeut ku teuteureuyeun" tapi harus mawas diri," kata Seniman Ciamis yang juga Penggagas Nyiar Lumar Godi Suwarna.

Mawas Diri
Menurut Godi, cerita pilu masa lalu yang kembali diangkat bukan untuk mewariskan konflik atas terbunuhnya rombongan Sunda di Bubat. Namun lebih pada perenungan peristiwa masa lalu untuk dijadikan bahan pelajaran atau bahan untuk ngaji diri.
Jangan sampai kita tergiur oleh gemerlapnya jabatan atau pun lainya, karena hal itu bisa saja jebakan bahkan bisa membuat kita terbunuh.
Hanya karena diiming-imingi menjadi permaisuri raja sebuah kerajaan besar Majapahit, kata Godi, pasukan Kerajaan Sunda "palastra" semuanya terbunuh tak bersisa di Bubat, termasuk Raja dan Permaesuri.
Apa yang dilakukan pasukan Sunda saat itu kata Godi tidak dengan perhitungan yang matang dan cenderung lebih karena hasrat yang besar. Padahal banyak kalangan yang keberatan, karena tradisi Sunda, calon pengantin pria yang datang bukan malah sebaliknya.
"Ulah nepika moro julang ngaleupaskeun peusing, dalam artian jangan mengejar hal yang belum pasti," tegasnya.
Sedangkan Pandu Radea, salah seorang seniman muda Ciamis, punya anggapan lain. Cerita yang diangkat pada kegiatan Nyiar lumar tidak harus Gentala Bubat saja yang bisa memicu konflik.
"Ada legenda lain di Kawali yang bisa diangkat seperti Panji Boma, jangan hanya Gentala Bubat saja," ujarnya.
Cerita baru dengan konsep baru bisa menggugah kembali pagelaran dua tahunan menjadi lebih bermakna. Ada penurunan drastis jumlah penikmat pagelaran dari tahun ke tahun.
Bagi Pandu, pagelaran pertama dan kedua lebih memiliki esensi proses pengkajian jati diri dalam gelaran Nyiar Lumar".
Gentala bubat bukan satu satunya pagelaran seni yang ditampilkan pada helaran nyiar lumar ke 8 tahun ini. Pencak Silat, Karinding, genjring Ronyok, Gondang Buhun, Tari Sanglawang, tawasulan di makam besar, pedaran sejarah sunda, lapak sajak fiksimini basa sunda dan pentas teater Jagat.
Para Fiksiminers (sebutan penulis fiksimini) berkesempatan tampil di panggung terbuka seperti Nazarudin Azhar, Nana Sukmana, Godi Suwarna, Yusef Muldiyana, Wawan Husin, Iwan Hanjuang, dll.
Mendalam
Nyiar Lumar bukan hanya soal pagelaran seni budaya saja, tetapi memiliki makan yang sangat dalam sebuah perjalanan kontemplatif pencarian jati diri, sykur atau tafakur alam.
"Nyiar" memiliki makna mencari dan "lumar" nama yang disematkan pada jamur bercahaya. Secara harfiah "nyiar lumar" berarti mencari jamur bercahaya. Namun, makna mendalamnya mencari setitik cahaya di kegelapan atau proses pencarian jati diri manusia.
Alam terbuka menjadi media yang sangat pantas dijadikan lokasi pencarian jati diri. Apalagi, Astana Gede memiliki historis yang sangat panjang bagi sebuah proses kehidupan. Ada enam prasasti tertanam di Astana Gede Kawali, salah satunya "sakakala" atau tugu peringatan untuk mengenang keberhasilan Prabu Niskala Wastu Kancana membangun kerajaan Galuh. Niskala Wastu Kancana adalah putra Prabu Linggabuana yang gugur di Bubat.
nihan tapa kawa
li nu sang hyang mulia tapa bha-
gya par?bu raja wastu
mangad?g di kuta ka-
wali nu mahayuna kadatuan
sura wisesa nu marigi sa-
kuliling day?h. nu najur sakala
desa aja manu panderi pak?na
gawe ring hayu pak?n hebel ja
ya dina buana

(Inilah jejak (tapak) (di) Kawali (dari) tapa beliau Yang Mulia Prabu Raja Wastu (yang) mendirikan pertahanan (bertahta di) Kawali, yang telah memperindah kedaton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan di sekeliling wilayah kerajaan, yang memakmurkan seluruh pemukiman. Kepada yang akan datang, hendaknya menerapkan keselamatan sebagai landasan kemenangan hidup di dunia).
Natural
Semua yang disajikan pada pagelaran Nyiar Lumar natural tanpa ada sentuhan teknologi. Struktur alam Astana Gede menjadi ornamen pagelaran. Lampu cempor minyak tanah menjadi penerang jala-jalan di Astana Gede yang rimbun. Menapaki jalan seakan berada di abad lama sebelum listrik ditemukan, termasuk saat menyaksikan berbagai pagelaran, sebuah konsep yang menakjubkan.
Semua pengunjung digiring untuk ikut merenungi diri sendiri atau merenungi peristiwa lampau. Para pedagang yang ada juga larut dalam suasana, untuk penerangan mereka memanfaatkan cahaya cempor minyak tanah.
"Sangkan tong pareumeun obor, jadi cacangna ku obor," kata Dadang Qimos sambil tersenyum.
Bagi Dadang yang juga ikut menggagas Nyiar Lumar bersama Godi Suwarna, Pandu Radea, dan Edi Rusyana Noer, Nyiar Lumar memiliki makna yang sangat luar biasa. Bukan karena bisa mengumpulkan banyak seniman dari kota ke Astana Gede sesuai dengan konsep awal, namun menyimpan makna yang sangat dalam.
Sebelum pementasan pertama tahun 1998 silam, ia sempat dipanggil pihak keamanan untuk dimintai keterangan. Anggapannya kegiatan yang dilangsungkan di Astana Gede sebagai rencana makar dan menghimpun kekuatan untuk menggulingkan Pemerintahan Orde Baru.
Situasi politik saat itu sedang kacau, aksi unjukrasa terjadi di mana-mana.
"Apresiasi protes kita di Kawali diwujudkan dalam betuk pagelaran seni di Astana Gede ini, esoknya Soeharto pun lengser dari kursi presiden, ini menjadi ruh luar biasa bagi Nyiar Lumar," kata Dadang. (Abdul Latif/KP)***