Jumat, 28 Agustus 2015

KARINDING KAWALIAN

Sebuah Proses Pencarian Bentuk

Karinding kini dikenal kembali oleh masyarakat terutama kalangan anak muda dan musisi. Diantaranya beberapa karya musisi-musisi tahun 1980 dan 1990an. Karya musik Harry Roesli yang sepanjang lagu menampilkan permainan karinding dalam aransemen musik rock balada penuh protes yang ia ciptakan. Karinding juga dapat kita nikmati dalam intro lagu “Semusim” yang dinyanyikan oleh Chrisye bersama Waljinah. Selain itu musisi Doel Sumbang juga pernah menampilkan permainan karinding dalam lagu yang berjudul Bong Abong.
Setelah terlupakan sekian lama, kini, berkat peran komunitas metal scene Bandung seperti komunitas Ujungberung Rebel yang mana beberapa personil dari band beraliran cadas berinisiatif membentuk sebuah grup musik tradisi bernama Karinding Attack pada tahun 2009 dengan memainkan alat-alat kesenian sunda buhun yang salah satunya adalah karinding. Kini karinding kembali dikenal masyarakat.
Di Sunda, karinding disebutkan setidaknya digunakan oleh masyarakat saat melepas kepergian rombongan pengantin Putri Dyah pitaloka ketika hendak berangkat ke Majapahit. Sekitar masa Prabu Maharaja Linggabuana memerintah kerajaan Sunda Galuh di Kawali (Ciamis Utara) pada abad ke 12 Masehi.
Karinding dipercaya pada awalnya digunakan masyarakat sebagai alat untuk mengusir kejenuhan saat menunggu huma (ladang) ataupun sawah. Karena memiliki karakter suara yang khas maka karinding dipercaya dapat menjadi media komunikasi dengan hama agar tak mengganggu tanaman padi. Bahkan hal ini masih dilakukan oleh beberapa masyarakat adat di Sunda hingga saat ini.
Pada masa lalu. Karinding pun digunakan sebagai media komunikasi bagi orang tua dan jabang bayi yang ada dalam kandungan. Hal ini konon diyakini dapat merangsang respon sang jabang bayi, dan bisa menumbuhkan kecerdasan dan kreatifitas sang jabang bayi kelak.
Kawali. Merupakan salahsatu pemukiman tertua di Jawa Barat terletak di Ciamis bagian utara, tempat yang pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan Sunda Galuh selama 5 generasi, dengan bukti sejarahnya yaitu Situs Linggahiang atau Astana Gede Kawali.
Disinilah tumbuh dan berkembang komunitas beberapa kesenian tradisi juga kontemporer. Event kesenian pun rutin digelar, seperti Nyiar Lumar setiap 2 tahun sekali. Dalam event Nyiar Lumar, selalu ditampilkan berbagai kesenian baik tradisi atau pun kontemporer. Seni Rupa, Musik, Tari dan Teater bisa tampil dengan latar belakang panggung alam terbuka dan suasana yang diciptakan agar istimewa.
Ternyata bagi kami, masyarakat kawali dan siapapun yang terlibat langsung dalam event Nyiar Lumar, kemeriahan dan keistimewaan acara ini terletak bukan pada pelaksanaannya, tapi justru pada proses sebelum pelaksanaan acara Nyiar Lumar. Dimana kami berkutat dengan berbagai aktifitas untuk mempersiapkan wilayah pentas yang bukan hanya satu tempat, tetapi meliputi beberapa tempat dengan puncak pagelaran di Situs Linggahiang Astana Gede.
Tahun 2004.  Saat Nyiar Lumar kembali digelar, Kami bertemu dan berkumpul kembali dengan rekan-rekan seperjuangan. Kembali berjibaku mempersiapkan berbagai hal untuk event yang kami banggakan. Saat itu, salah seorang rekan membawa sebuah alat music dari sebilah bambu. Dia menyebutnya Genggong. Disela-sela waktu sengggang, kami mempelajari alat music tersebut, baik memainkan atau bahkan membuatnya.
Selepas Pagelaran Nyiar Lumar 2014, kami tetap mencoba mendalami alat music tersebut. Lambat laun, dari berbagai informasi, dan perjumpaan kami dengan beberapa pengguna karinding diantaranya Abah Oyon di Cineam Tasikmalaya, kami pun mendapatkan bentuk karinding yang kami rasa nyaman untuk dimainkan.
Kami pun terus ngulik dan mencoba berbagai bahan yang bisa di “raut” untuk membuat karinding. Pelepah pohon kawung (aren), bambu haur, waregu, dan berbagai macam bambu yang memiliki ketebalan tertentu adalah beberapa bahan yang pernah kami coba untuk membuat karinding. Hingga pada akhirnya kami memilih bambu bitung (betung). Bahan ini kami pilih karena memiliki ketebalan yang ideal dan kelenturan yang cukup bagus untuk membuat karinding.
Mulailah kami mencoba membuat karinding dalam jumlah yang cukup banyak dan kami sosialisasikan kepada orang-orang disekeliling kami.
Bahkan, suatu ketika kami mendapat pesanan hingga 300 batang karinding untuk dipasarkan kepada anak sekolah sebagai media pembelajaran menabuh karinding di sekolah mereka. Mulai saat itulah, kami berusaha memasarkan karinding ke berbagai kalangan.
Beberapa galeri dan distro merchandise metal membantu kami dalam pemasaran karinding yang kami produksi, diantaranya adalah galeri RAM Sundanese dan Metal Gear di Ciamis.
Dari aktifitas produksi dan pemasaran karinding tersebut, kami menyadari, bahwa ternyata karinding pun memiliki nilai ekonomi dan nilai komersial yang bisa diandalkan jika di tangani dengan serius.